Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail
Tampilkan postingan dengan label Ruang Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Sisi seorang Ayah

gambar: panoramio.com

Dalam blog ini setidaknya sudah ada 3 tulisan tentang ibu, maka untuk adilnya saya akan coba menulis tentang seorang Ayah. Ya ini juga mungkin sudah sesuai dengan sunnah Rasul tentang berakti kepada kedua orangtua :  ibumu..ibumu..ibumu...kemudian Ayahmu.

Bersyukurlah kita yang masih bisa melihat dan merasakan sosok seorang ayah, apalagi ketika kedua orang tua kita masih hidup sampai hari ini. Ada banyak juga saudara kita yang tidak sempat merasakan lama kehangatan seorang ayah, atau bahkan hanya bisa melihat foto sang ayah. Terlepas dari itu sejatinya ayah kita selalu ada. Walaupun ia telah meninggal, ia membekas di guratan wajah kita yang kata orang mirip, ada di DNA kita bahkan sebagian sifatnya ia tularkan kepada kita. Like father like son. Selalu ada alasan untuk merasakan ayah kita selalu ada.

Rabu, 28 Desember 2011

Kita kadang butuh momentum

Akhir dan awal penanggalan dalam sebuah kalender setidaknya mengingatkan kita tentang berlalunya waktu…iya..waktu, dia berjalan terus… cuek tidak mau memperdulikan kita… soalnya kita kadang juga cuek dengan dia…
Kita sudah diberi kesempatan bertemu dengan waktu itu, namun kita tidak mampu memanfaatkannya dengan baik. Setiap detik dalam hidup kita sangatlah berharga, meski lagi..lagi kita tidak sering menyadarinya. Seperti ini, tak terasa kita sudah berada di akhir tahun 2011 dan Insya Allah akan bertemu dengan 2012. Ada harapan yang tercapai ada juga yang belum/tidak tercapai.
Saking pentingnya waktu..setiap detik itu kesempatan. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan seperti ini :
Untuk mengetahui berapa lama 1 tahun, bertanyalah pada pelajar yang tidak naik kelas
Untuk mengetahui berapa lama 1 bulan, bertanyalah pada ibu yang melahirkan bayi secara prematur
Untuk mengetahui berapa lama 1 minggu bertanyalah pada editor majalah mingguan
Untuk mengetahui berapa lama 1 hari bertanyalah pada buruh yang harus memberi makan 10 anaknya tiap hari
Untuk mengetahui berapa lama 1 jam bertanyalah pada sepasang suami istri yang menunggu untuk bertemu Untuk mengetahui berapa lama 1 menit bertanyalah pada orang yang ketinggalan kereta
Untuk mengetahui berapa lama 1 detik bertanyalah pada orang yang selamat dari kecelakaan
Untuk mengetahui berapa lama 1 milisecond bertanyalah pada pemenang kedua atlet lari cepat olimpiade

HUfth..rasanya kita perlu menyiapkan waktu buat diri kita sejenak, menciptakan momen semacam jeda dalam hidup ini untuk sejenak merenung. Kita sering menyebutnya introspeksi diri, evaluasi diri, refleksi, muhasabah atau apalah namanya. Pergantian tahun ini bisa menjadi salah satu momen, walaupun tahun masehi tak membawa makna historis bagi kita seorang muslim. Tapi tak apalah, yang penting tujuannya baik.

Momentum itu harus ada, karena kita mesti mengevaluasi apa yang telah kita lakukan selama setahun ini. Harus ada karena kita harus merekonstruksi ulang mimpi-mimpi, harapan, dan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan kedepan. Bukankah Allah pernah berfirman dalam surah Al Hasyr (59:18) “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kaian kerjakan”.
Di akhir tahun ini, coba kita duduk sejenak…dalam suasan hening malam setelah lail. Mencoba memutar kembali roda waktu kebelakang dalam pikiran dan ingatan kita Seperti apa wajah kita dalam rentang waktu yang telah diberikan Allah kepada kita Setekun apa kita menjalani ibadah baik yang berdimensi vertikal (Allah dengan hambannya) maupun yang berdimensi horisontal (amalan sosial sesama hamba Allah) Perilaku kita, apakah lebih banyak ingkar atau taat? Berapa syukur yang bisa kita ekspresikan? Semuanya… kita coba hisab, sebelum Allah menghisab kita, walaupun kita tidak mampu mengingat dan menghitung semuanya. Rasulullah saw pernah bersabda “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt".

Tapi jangan sampai menatap masa lalu kita berlebihan, baik karena merasa sesal ataupun berhasil. Merasa gagal yang berlebihan itu berbahaya, karena bisa membuat diri kita fatalis, putus asa. Mungkin ada segunung dosa dan kita merasa Allah tak akan mengampuninya, jika sudah begini, bukannya kita merasa dekat tapi malah menjauh dari Allah. Merasa bangga akan keberhasilan dan amalan juga tidak baik, itu justru akan menyeret kita pada keterlenaan, dan kesia-sian yang akan menjebak kita pada perasaan “cukup”. Betapa bahayanya jika seseorang sudah merasa cukup.

Setelah merenungi masa lalu…mari kita coba memutar roda kehidupan kita jauh kedepan. melihat masa depan yang masih misteri. Berjanji dalam diri untuk berubah lebih baik, merencanakan mimpi-mimpi, menyusun target capaian harapan dan merencanakan masa depan. Hidup harus berorientasi kedepan dengan belajar dan berkaca dari apa yang telah kita lewati.
Sehingga muhasabah selalu melibatkan masa lalu dan masa depan kita.

Namun kadang refleksi diri, muhasabah, bisa menjadi jebakan buat kita. Terutama jika yang muncul hanya berupa sensasi spiritual saja. Pada suatu waktu misalnya saat momentum jeda itu datang. Kita diberi kesadaran spiritual pada saat itu. Kita menemukan sisi jernih dari hidup kita. Kita sadari kesalahan kita. Betapa tidak konsistennya kita di jalanNya. Kita merasakan betapa tetes mata itu jatuh begitu nikmat. Kita merasa inilah puncak spiritualitas kita. Anehnya, setelah semua usai, berlalu pula kesadaran kita, seolah keimanan kita hanya berumur beberapa jam, beberapa hari saja. Kita pun kembali pada rutinas kita yang biasa. Kita mungkin biasa melihat/merasakan itu setelah mengikuti Training-training Spritual, atau setelah membaca buku-buku motivasi. Kita kadang hanya membuat kesadaran temporal buka permanen. Maka momentum itu semu. Titik balik itupun tidak tercipta. Maka menciptakan kesadaran, membuat komitmen diri, mengkonsistenkan amalan, menjadi salah satu kunci melahirkan kesadara itu tiap hari.
Momentum itu penting..tapi menjaga hasil momentum itu lebih penting.
Mari kawan luangkan waktu sejenak kita untuk bermuhasabah dan bermunajat di akhir tahun ini

catatan buat dirisendiri di akhir tahun

Kamis, 22 Desember 2011

Memahami...mencintainya...



Mungkin dia sosok yang paling dekat dengan kita
tapi kadang dekat pun..tak mampu kita pahami
tidak semua isyarat batinnya mampu kita baca
tidak semua kehendaknya kita mengerti
tidak semua maksudnya kita duga
padahal
dialah sumber motivasi
dialah pangkal keselamatan
dialah berkah kebahagiaan
dialah doa-doa yang diijabah
Ridho Allah seirama dengan ridhonya
Murka Allah juga seiring dengan murkanya
Seperti itulah IBU kita

maka memahami dia dengan sepenuh hati adalah wujud bakti
yang mungkin tidak sebanding dengan pengorbananya
mengirimkan doa buatnya, memenuhi kehendaknya adalah cerminan cinta kita kepadanya
demi mengharapkan keberkahan dan ridhonya

Semoga Ibu senantiasa diberi Kemulian dan keberkahan
Kesehatan, Keselamatan dunia Akhirat
Amiiin...

Jogja, 22 Desember 2011 (Hari Ibu)

Jumat, 16 Desember 2011

Inilah kita...



orang yang gelap yang sedang menunggu penerangan
orang lupa yang sedang menunggu peringatan
orang bodoh yang sedang menunggu pengajaran
orang gelisah yang sedang menunggu diturunkan ketenagan

Bukankah itu semua dalam KehendakNya
kenapa kita lupa untuk meminta, lupa bersyukur, lupa bersujud

Kuhadapkan muka dan jiwaku kepada zat yang mencipta langit dan bumi
dengan keadaan tunduk dan menyerahkan diri
dan aku bukanlah dari golongan kaum musyirikin
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku
hanya untuk Allah, Tuhan semesta Alam
(iftitah)

Jogja,Jumat 16122011

Sabtu, 11 Juni 2011

Kita Kadang Salah Memahami Keinginan IBU yang Sederhana


Mungkin tidak ada makhluk yang spesial dalam hidup kita selain IBU, ia begitu spesial karena pergorbanannya, karena cintanya, karena sayangnya, dan karena ketulusan dan doa-doanya kepada kita. Dan tak ada satupun paham di dunia ini yang tak sepaham akan itu.

Begitu spesialnya ia diciptakan bahkan diagungkan oleh ALLAH SWT di beberapa ayatnya,kita selalu dituntut untuk senantiasi berlaku baik kepadanya, berbakti kepadanya, menjaga perasaanya, medoakannya dan membahagiakannya. Namun kita berdua terlahir di generasi yang berbeda, hidup di zaman yang tak sama, mengalami perubahan-perubahan sosial budaya yang tak serupa. Terkadang memunculkan perbedaan yang membuat komunikasi kita dengan ibu tak sejalan, kehendak tak seiring dan pikiran yang tak sepaham.

Ibu memiliki pandangan yang lebih dalam tentang hidup dan perasaan, kadang tidak bisa dipahami oleh kita sebagai anaknya. Keinginan-keinginan yang sederhana seringkali ditafsirkan rumit oleh kita sehingga melahirkan praduga-praduga yang tak mendasar dan akhirnya membuat ia kecewa.

Ia sekedar ingin menunjukkan cinta, kasih sayang dan perhatiannya ketika itu. Ketika anak laki-laki satu-satunya ini ingin berangkat untuk sekolah lagi di Jawa. ibu,karena ia merasa akan berpisah dengan anak yang dicintainya dengan jarak yang jauh dalam waktu yang lama, karena belum pernah memang aku meninggalkan orang tuaku selama ini, tentu ia ingin meluapkan perhatian dan kasih sayangnya dengan mengantar anaknya ke bandara. Ya.. orang tua manapun pasti ingin menyertai anaknya pada saat-saat yang penting itu entah untuk sekedar memberi semangat atau mendoakannya.

Tapi anak laki-laki ini yang merasa sudah besar, dewasa dan tidak ingin dibilang anak manja tanpa rasa bersalah mengatakan “Ndak usahmi bu antarka',..” tapi saya selalu kalah membujuk ibu, keinginannya lebih besar daripada usaha saya, walaupun mungkin dalam hatinya sedikit kecewa dengan kata-kata anaknya ini. Sampai di bandarapun saya bilang lagi “Ndak usahmi bu turun, saya langsung masuk saja boarding..” saya sih cuma berpikir karena memang mobil ndak boleh parkir lama-lama di depan ruang keberangkatan, cuma bisa turunkan penumpang dan barang, …ibu langsung pulang saja”. Tapi diapun bersikeras melihat saya sampai masuk ke bandara waktu itu, Setelah mencium tangan dan pipinya saya pun masuk ke bandara. Saya masih melihat wajahnya yang sedih di luar bandara ketika saya sudah masuk waktu itu.

Disinilah kadang kita salah dalam berpikir dan menerka keinginan orang tua kita terutama ibu, kita hanya mampu menerka bahwa ibu mengangap kita masih anak-anak yang perlu ditemani dan dimanja. Padahal mungkin persoalannya tidak sesederhana itu, orang tua kita mungkin tidak bermaksud memperlakukan kita seperti itu, mereka ingin tetap memberikan cintanya dalam waktu sekejap sebelum ia berpisah dengan anaknya. Atau mungkin ia berpikir “anakku membutuhkan kekuatan doa dan semangat, maka aku ingin mengiringi kepergiannya dengan lantunan doa”. Sederhana memang tapi kita kadang tidak menyadarinya.”

Atau ketika ia sering bahkan setiap hari menelpon, ketika kita sudah dirantau, hanya untuk sekedar bilang “lagi dimaki nak..” “lagi bikin apa..” “sudah makan belum..” Sebagian dari kita mengangap mungkin telponnya menggangu kita, atau sudah bosan mendengarnya, atau mengangap ngapain sih ibu nelpon terus, saya baik-baik saja kok, Seolah kita masih anak kecil yang harus di cek dan pantau tiap hari aktivitasnya, yang sebelumnya ketika kita masih bersama mereka ia jarang menelpon. Disinilah saya bahkan mungkin sebagian dari kita gagal memahami hal yang sederhan itu.

Mungkin ketika ia menelpon, ibu hanya ingin melepas rindunya dan mengobati rasa sepinya, ia begitu senang ketika mendengar suara kita disana, atau kabar kita baik-baik saja, sehat dan sudah makan. Ini yang coba kita pahami, maka jauhkan rasa terbebani itu, jauhkan kata-kata yang mungkin bisa menyakiti hatinya itu, Sebab ketika kita jauh darinya, mungkin hanya itu bakti yang bisa kita berikan untuk membalas jasa-jasanya yang tak terhingga yang tak tak mungkin terlunaskan.

Semoga kita dapat membahagiakan orang tua kita dengan memahami dan memenuhi keinginan-keinginannya yang sederhana. Karena pada hakikatnya apapun yang kita berikan,tidak akan pernah sepadan dengan kasih sayang yang mereka curahkan untu kita.

-Ketika kata itu sulit terucap, saya hanya bisa menuliskan rinduku disini, ibuku Sayang-

Sumber Inspirasi : Tarbawi

Rabu, 11 Mei 2011

Berbagi Keceriaan


Setelah kita belajar cuek.. sekarang belajar peduli..hehehe…dengan berbagi keceriaan..ok!
Pengalaman hidup manusia yang panjaang menjelaskan bahwa orang yang mampu mencapai kedudukan yang tinggi adalah orang yang memberi nasehat kepada orang lain dengan ilmu yang bermanfaat atau yang mau melepaskan orang lain dari himpitan masalah, memudahkan orang yang kesulitan dan orang yang mau mengeluarkan apa saja miliknya untuk membahagiakan orang lain. Orang yang mendapatkan posisi mulia dari sisi Rabbnya adalah orang memiliki seni membagi keceriaan dari jiwanya yang jernih.
Perhatikanlah kedudukan mulia itu ketika seseorang sahabat Nabi saw yang menerima seorang tamu, tapi ingin sekali memuliakan tamunya tersebut dan membuatnya gembira padahal dia tidak punya makanan kecuali hanya sedikit. Sahabat itu kemudian mematikan lampunya, dan lalu dia berpura-pura seakan sedang ikut makan hingga tamunya menghabiskan makanan yang terhidang di depannya sampai kenyang.
Dan Al Quran pun turun untuk merekam perbuatan itu yang mungkin dianggap remeh oleh mata manusia namun berat dalam timbangan kepahlawanan, prinsip dan makna. Karena itulah Allah swt mengangkat derajat shaabat tersebut dengan perbuatannya, seperti ditegaskan dalam firmanNya, “Dan mereka mengutamakan (muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan (QS. Al Hasyr:9)
Rasulullah saw bersabda :Sesungguhnya di antara amal shalih yang paling dicintai Allah adalah memasukkan keceriaan di hati seorang mukmin, melepaskannya dari kesedihan, membayarkan Utangnya, dan memberinya makan dari kelaparan (HR. Baihaqi)
Hadist lain juga menyebutkan bahwa “Siapa yang menyisipkan keceriaan ke dalam sebuah penghuni rumah dari kaum muslimin, Allah tidak rela pahala baginya kecuali surga (HR. Thabrani dan Aisyah ra)
Begitu muliannya perbuatan sederhana ini, kita sisa menumbuhkan sifat peduli, berbagi, walaupun sedikit, walaupun kita juga butuh, Insya Allah.. kita hanya perlu YAKIN bahwa semua itu aka nada gantinya yang lebih baik… Mari Menularkan keceriaan,

Minggu, 03 April 2011

Kesepasangan


Pernahkah kita menyadari bahwa kita dapat merasakan segala sesuatu yang menguntukngkan (Pintar, soleh, berani, tawadhu, kaya…) karena jasa segala hal yang merugikan (Bodoh, kafir, takut, serakah, miskin….) ?

Jika kita merasa nikmat menjadi orang pintar atau orang kaya sesungguhnya nikmat itu berkat pasangan dari pintar yakni “bodoh”. Artinya, jika kita tidak pernah merasakan bodoh, secara alamiah kita tidak akan merasakan pintar sebagai suatu kenikmatan.

Ini sama persis dengan malam hari yang terasa dingin karena kita merasakan panas pada siang hari. Begitupun dengan keberaniaan yang terasa memukau karena kita entah kapan, mengenal ketakutan yang melumpuhkan.

Inilah salah satu elemen penting yang menjadi faktor terselenggaranya kehidupan di dunia. Elemen ini menjadi penting sebab Allah menciptakannya sebagai hukum kesepasangan. Sebagai konsekuensi alamiahnya. Hukum ini tidak menngenalkan kita kepada ketunggalan. Oleh karena itu kita tidak mungkin hidup tanpa kebodohan sebab tanpanya tak mungkin ada kepintaran.Apakah kita sanggup hidup terus menerus pada malam hari ? ya…ngak mungkin khan

Hukum kesepasangan ini kemudian mengajarkan kita pada pengenalan kita tahu dingin karena ada panas kita mengenal malam karena ada siang tanpa panas dan siang tidak ada istilah malam dan dingin dalam kehidupan ini.

Kita juga diajarkan untuk tidak saling meniadakan sebab dengan meniadakan kesepasangan sama artinya dengan menentang kehidupan. Makanya jangan meniadakan orang bodoh jika ingin ada orang pintar. Jangan meniadakan orang kafir jika ingin ada orang mukmin dan kebahagiaan, Itulah mungkin alasan mengapa Tuhan mengutus nabi-nabi dengan bekal kitab-kitab, sekaligus menakdirkan kehidupan mereka dalam putaran roda kehidupan ini, (Kadang di atas kadang dibawah).

Minggu, 27 Maret 2011

Ada Apa dengan Langit ??


Memandangi langit malam menyisakan sedikit kepedihan di hati saya.
Begitu kecilnya Saya dan begitu besar KekuasaanNYa
Ada apa dengan langit?

langit malam kali ini sungguh pekat, nyaris tidak ada sebuah bintang
Ada Apa dengan Langit?
bulan juga bersembunyi, sehingga kegelapan semakin berkuasa.
Tapi tetap saja langit membuat diri saya kecil melihat KebesaranNya
Ehm…melihat langit saya bisa menertawakan diri sendiri
yang sering kali begitu ambisius,egois, sombong
sehingga lupa untuk bersyukur, lupa untuk bersujud

lupa mensyukuri seteguk air yang bisa membasahi kerongkongan di pagi hari,
Lupa menysukuri sesuap nasi yang melegakan perut yang keroncongan. Dan lupa lainnya
Sering begitu sibuk mempertanyakan kenapa saya tidak seperti si anu,
kenapa saya tidak bisa begini seperti si ini,
dan berbagai kenapa-kenapa lainnya yang takkan pernah terjawab jika hati saya berkeras untuk tidak menerima jawaban yang tersedia. Padahal saya telah tahu jawabannya: Bersyukur!

Saya menatap langit sekali lagi. Cukup untuk hari ini saya menatapnya. Besok, di lain waktu, saya ingin meminta Allah memberi saya sedikit lagi waktu untuk menatap langit.

Melihat bintangNya, melihat bulanNya yang Indah
Mengumandangkan zikir dan pujian-pujian kepada-Nya.

 
 
Blogger Templates